Penulis: rasyid

  • Bersama Bapak (2)

    Pernah suatu ketika ada teman minta keringanan SPP, akhirnya Bapak datang ke sekolah SMP. Bapak dengan gaya khasnya memakai celana panjang dan kemeja panjang lengkap dengan kopiah hitam. Bapak saya bukan orang terdidik, beliau datang dan saya dikasih tahu. Saya antar Bapak ke ruang BK kemudian lanjut ke bagian Tata Usaha. Akhirnya SPP bisa turun.

    Alurnya memang tidak jelas. Bapak saya harus bolak-balik ke sana kemari. Saya sedih melihatnya. Gini amat jadi orang tidak punya. Prinsipnya, berbuat baik, memberikan pelayanan yang baik itu jangan melihat kelas. Kebaikan itu untuk semuanya. Tapi ya tidak apa-apa, santai saja. Dunia ini berputar, kita lahir tidak bisa memilih orang tua, mati pun kita tidak bawa apa-apa.

    Saya tidak minta diperlakukan istimewa, cuma dilayani sebagai manusia biasa saja. Kalau bisa bilang bisa, kalau tidak bisa yaa bilang tidak bisa. Sesimpel itu saja.

    Kalau tidak salah waktu itu saya kelas 8 SMP. Bapak masih kuat naik sepeda, kadang main ke saudaranya di Kota Pekalongan. Bapak ini sukanya nyedulur, ke saudaranya. Tapi saya heran kenapa saudaranya tidak jarang sekali main ke rumah? Apa karena kami bukan orang have ya. Saya benar-benar tidak paham betul saudara saya dari jalur Bapak. Bahkan sampai hari ini hanya segelintir saja yang saya tahu. Saking jarangnya mereka menyapa Bapak di rumah kami.

    Padahal di antara semua anak Mbah, cuma tersisa Bapak doang. Saat sakit ya saya tidak melihat ada saudaranya, pas meninggal juga tidak banyak saudara Bapak hadir. Bisa gitu ya. Tapi kalau Bapak sehat itu sudah bisa dipastikan main ke rumah saudara-saudaranya itu.

    Sialan, ternyata soal warisan. Itu sebabnya pas Bapak meninggal sepi. Aset yang mestinya menjadi hak Bapak langsung diproses setelah Bapak meninggal. Seolah semua disengaja, disetting sedemikian rupa. Lah dalah. Begini amat cara mainnya. Kalau Bapak meninggal kan dapatnya sedikit, aturan mainnya memang gitu. Kalau masih hidup ya dapatnya banyak.

    Bapak katanya pernah cerita, kalau nanti warisan itu terjual, itu uangnya lumayan besar. Nanti bisa buat menyekolahkan saya.

    Setidaknya ada yang jadi orang yang berhasil satu. Ternyata Bapak yang selama ini terlihat hanya bekerja dan bekerja untuk mencukupi keluarga, sudah punya rencana untuk pendidikan anaknya.

    Selama menjadi anak, saya tidak pernah diapresiasi. Jadi meskipun saya ini langganan ranking 1 dari SD sampai lulus SMA, Bapak ya biasa saja. Tapi Bapak hanya menyaksikan saya sampai SMP kelas 8. Baru masuk kelas 9, Bapak meninggalkan saya untuk selamanya.

    Apa bapak-bapak di luar sana juga sama? Cenderung dingin, pingin ngucapin selamat tapi dia sendiri tidak pernah merasakan hal yang sama. Mentok ya di bangku SD saja. Bapak tetap tahu anaknya ada yang potensial jadi orang. SMP dan SMA apalagi kuliah waktu itu kan bayar semua. Jadi opsi paling memungkinkan yang Bapak harapkan ya tadi, kalau warisan terjual bisa buat sekolah anaknya.

    Waktu memberikan nama ke saya, katanya Bapak pernah melihat pedagang besar namanya H. Abdul Rasyid. Dikasihlah saya nama itu, lengkapnya Abdul Rasyid Baharun Syah. Makanya di rumah saya dipanggil Arun (sudah kaya orang India). Tapi entah kenapa di surat kelahiran cuma Abdul Rasyid, entah lupa atau gimana ya.

    Sayang sekali, plan Bapak tidak berjalan sesuai dengan harapannya itu. Bapak harus meninggalkan dunia ini dengan meninggalkan 3 anak yang masih memerlukan bimbingan. Tidak apa-apa, mungkin soal warisan itu bukan rezekinya. Barangkali rezekinya dengan skema lainnya.

  • Bersama Bapak (1)

    Kalau ditarik ke belakang, hidup ini terlalu unik. Rasa-rasanya hidup saya penuh dengan keberuntungan. Bukan karena saya hebat, jika tabir perihal gaib terpampang nyata di depan mata, barangkali 99% adalah doa dari bapak dan ibu saya.

    Kendati dalam hidup yang serba ngepas, lebih sering kekurangan, dan tak jarang sering mengeluhkannya. Satu hal yang pasti, bapak dan ibu selalu memastikan langkah keluarganya on the track. Sesulit apa pun itu, kita harus jadi orang benar, tidak menggangu orang, dan tidak merugikan orang lain. Barangkali itu value dari keluarga ini yang teramat mewah.

    Waktu kecil, saya merasa menjadi anak yang tidak cukup diuntungkan. Dari 3 anak terakhir posisi saya ini di tengah-tengah. Di usianya yang tidak muda lagi, Bapak harus terus bekerja untuk mencukupi kebutuhan kami. Ibu juga ikut membantu, meskipun tidak seberapa upahnya, itu adalah langkah yang paling logis yang bisa Ibu lakukan.

    Membesarkan anak yang kecil seumuran TK/SD yang usianya tidak berjarak jauh ternyata sangat merepotkan. Jelas butuh biaya yang cukup hanyak, jelas pundak Bapak terasa berat menanggung beban ini.

    Memiliki banyak anak itu memang konsekuensinya cukup berat. Saya tidak menyalahkan Bapak dan Ibu, mungkin belum paham soal program KB atau memang punya paham banyak anak banyak rezeki? Soal ini saya pun belum pernah menanyakan secara langsung.

    Sialnya saya ini tidak memiliki catatan kapan Bapak lahir, dan umur berapa Bapak menghembuskan nafas terakhirnya. Sialnya lagi saya tidak punya kenangan foto yang bagus bersamanya. Sekitar 2010-an awal eranya HP Nexian dan kawan-kawannya. Sayang sekali tak sempat memotret atau bahkan foto bersamanya.

    Saat berangkat sekolah, menjelang guru masuk, di depan pintu kelas 6 itu saya memandang tiap hari Bapak mengayuh sepedanya. Orang Pekalongan bilang sepede jengki namanya, warna biru, ada boncengannya. Di boncengan itu ada jas hujan kuning tebal dijepit. Kadang Bapak juga memakai sepeda Federal jadul andalannya.

    Meskipun bekerja sebagai buruh ngecap batik, style Bapak berangkat kerja rapi, iya rapi seperti orang mau pergi ke acara yang cukup formal. Pakai kemeja lengan panjang, topi di kepalanya, dan mengayuh sepedanya dengan badan agak membungkuk sedikit. Pelan dan tidak buru-buru.

    Bisa menggambarkan detail seperti itu saja saya berkaca-kaca menuliskannya. Sebab memang tidak banyak kenangan yang terabadikan dengan baik. Hanya ingatan yang menjadi sebaik-baik kenangan yang masih ada dan tersimpan abadi.

    Bapak bisa dibilang sering masuk rumah sakit. Setiap masuk rumah sakit, tak jarang terbesit di kepala saya, kalau-kalau Bapak nanti meninggal. Saya takut hari itu tiba, rasa-rasanya tidak siap. Tapi hidup terus berjalan dan kematian adalah kepastian bagi orang yang hidup.

    Tiap ke rumah sakit untuk menjenguk saudara atau teman, atau kalau sekarang untuk mengantar anak kontrol ke dokter anak, saya masih ingat momen-momen itu. Dari RSUD Kraton, kadang ke RS Siti Khodijah. Sebuah sudut dan harum khas rumah sakit pun sampai terngiang dibuatnya, saking seringnya.

    Saya tidak paham betul kenapa Bapak diuji dengan sakit yang bertubi-tubi. Sebagai anak yang belum banyak tahu tentang dunia ini bekerja, saya benar-benar bingung saat status yatim itu harus melekat pada saya dan adik saya. Terkadang saya merasa dunia saya sudah selesai.

    Sejak masuk SMP, Bapak memang sudah angkat tangan untuk bisa membiayai sekolah saya. SPP yang nominalnya kecil buat sebagian orang, kalau tidak salah sekitar 40 ribuan per bulan, uang gedung 450 ribu selama sekolah, Bapak saya tidak kuat. Makanya Mas sama Mbak yang patungan buat bisa bayar SPP dan ngasih saku tiap harinya.

    Lha wong Bapak itu dapat pocokan—gajian tiap hari Kamis di Pekalongan, itu cuma dapat 80-100 ribu. Kenapa saya tahu? Karena saya sering mendengarkan percakapan antara Bapak dan Ibu. Agaknya sering ribut karena bayarannya sedikit tapi kebutuhan banyak. Anak masih kecil-kecil, yang agak besar juga belum bisa banyak bantu.

    Saya sering melihat Bapak duduk sembari nyender ke tembok rumah, bajunya dilepas, cuma pakai celana pendek sembari menghela nafas. Bapak tidak banyak merespon omongan Ibu. Sepertinya Bapak juga tidak bisa merespon banyak hal, sebab dia pun sudah berjuang sekuat yang dia bisa. Bahkan pulang juga sudah capek.

    Meskipun capek banget, Bapak tidak pernah lupa kewajibannya untuk sholat dan puasa saat bulan Ramadhan. Keren banget si, sebab kerjaannya capek, berat dan panas. Memang bare minimum si, tapi melihat laki-laki dewasa menjalankan tugasnya sebagai orang tua dan tetap menjadi hamba yang taat, menurut saya itu keren banget.

    Meskipun Ibu saya suka marah-marah karena duitnya sering tidak cukup buat seminggu. Ibu adalah sosok istri yang baik. Ibu selalu menyiapkan makan untuk Bapak, dan Bapak makan tiap selesai sholat Maghrib dari Masjid. Benar-benar disiapkan makanan di meja makan. Seolah semua baik-baik saja.

    Saya ingat betul, saat tidak ada yang tersisa, mungkin cuma ada beras saja. Saya disuruh utang ke Bu Nor (Bude, Mbahnya katanya kakak beradik), biasanya minta bakwan, kikil dikecap, atau tempe kecap. Setelah semua dibungkus, saya bilang “Bayare ngko yo jarene Mak E”, maksudnya utang dulu, dicatat dulu.

    Bukan ngepas lagi, kekurangan kondisinya. Saya sedih cerita begini, cuma bagi saya ini adalah momen terindah saya. Sekalipun sedih dan penuh dengan air mata untuk mengingatnya kembali. Kalau Ibu bikin telur dadar, itu dibagi-baginya banyak biar semua kebagian.

    Hal yang paling ditunggu-tunggu saat ada walimahan adalah saat Bapak pulang membawa nasi berkat. Biasanya ada telur rebusnya 1. Itu telur rebus dibagi 4, biar kami bisa saling berbagi dan tidak ribut. Mas Syahid lebih tua 1 tahun dari saya, dan ada Arman yang masih kecil, lebih muda 4 tahun dari saya. Barangkali nasi berkat walimahan adalah menu makanan paling enak yang bisa kami rasakan.

    Lho iya, boro-boro makan enak, buat harian saja ngepas. Saku saya aja 500 perak saat teman-teman saya minimal seribu, dan rata-rata 2 ribu bahkan ada yang 5 ribu. Itupun teman saya ada yang nabung tiap hari 20 ribu, namanya Wahyunikah. Saya masih ingat itu.

  • Setelah 5 Tahun Berlayar

    Dibilang terasa cepat, ya memang begitulah waktu. Hari ini semuanya terasa begitu cepat. Dulu, waktu kecil, kalau lihat jam, waktu terasa berputar lama. Tetapi hari ini, lihat jam juga terasa cepat, apalagi tidak melihatnya. Perasaan kemarin baru 12 September 2021, ternyata itu sudah 5 tahun yang lalu.

    ….

    Saya pernah mendengar nasihat bijak bahwa lima tahun pertama pernikahan itu katanya fase krusial. Ibarat sebuah kapal, jika kita sebagai penumpang mendapati kapal bocor, jangan buru-buru loncat. Kalau kapal bocor, ya dicari penyebabnya apa, lalu ditambal.

    Loncat dari kapal ketika bocor sering kali membuat penyesalan. Nyebur ke laut, dan ya sudah, wassalam. Betapa tingginya angka perceraian di Indonesia dari tahun ke tahun. Boleh jadi karena pendeknya cara berpikir penumpang kapal, lalu ketika kapalnya bocor, dia langsung memutuskan untuk loncat.

    Tapi jika bocornya terlalu besar, mungkin loncat adalah langkah penyelamatan yang paling penting. Itu pun harus disertai dengan persiapan yang tentunya harus matang. Tapi saya lagi tidak membahas strategi untuk loncat dari kapal. Hehe.

    Semoga kapal yang saya naiki bersama istri saya tercinta dan bertambah muatan satu orang ini tetap kokoh. Aamiin.

    Kapal ini tiap hari berlayar, menuju satu tujuan yang sama. Terkadang goyang karena ombak yang besar, dan agaknya sering pusing dibuatnya. Badai bisa datang kapan pun, angin selalu menghantam dari segala penjuru arah. Lebih ngeri lagi kalau-kalau ada batu karang yang siap menghancurkan kapal kapan pun. Apa pun kondisinya, kita harus siap dan berjaga.

    Hampir tiap hari, tiap masalah yang ada di kapal ini kami cek, kami diskusikan, dan kami cari solusinya. Sesekali kami sembari ngobrol di sudut kapal itu, tentu saja disertai minuman dan makanan yang cukup enak. Sudut itu menjadi titik koordinasi dan ruang kendali untuk memastikan kapal aman dan tetap sesuai jalur.

    Semakin cepat kami bisa menangani kerusakan kecil, atau katakanlah kebocoran kecil, maka akan semakin aman. Kami khawatir kalau tidak segera ditangani, bocornya tambah besar, lalu kapal kami karam. Naudzubillah.

    •••

    Kami ini pasangan yang lumayan lama, tidak selama orang tua kami, juga tidak newbie seperti orang yang baru menikah. Tentu saja kami banyak kurangnya, tapi ya mungkin ada lebihnya, yang barangkali bisa diambil sebagai hikmah.

    Kami ya seperti umumnya pasangan, sering cekcok, ya sering berantem. Saya pikir-pikir, kayak tiba-tiba ada masalah saja gitu. Perasaan menurut saya aman, tapi tidak aman menurut istri saya. Pun sebaliknya. Memang benar kata orang, kuncinya menikah itu ya komunikasi. Apa pun diobrolkan, dibicarakan baik-baik. Kalau kode-kodean, khawatirnya tidak bisa baca kodenya, kan jadi repot.

    Style masing-masing orang kan berbeda. Kami dibesarkan dengan gaya parenting yang berbeda. Pun sama dengan ilmu dan pengalaman yang kami miliki dalam menghadapi orang, menghadapi masalah, dan mengelola itu semua. Intinya, dua orang berbeda dan benar-benar beda lalu disatukan dalam ikatan pernikahan, kan ya sulit untuk menyatu. Perlu adaptasi untuk bisa deal dengan segala macam perbedaan itu. Saya pikir semua pasangan juga mengalaminya.

    Style kita sebagai pasangan dan cara memperlakukan pasangan kita itu hampir mirip dengan apa yang kita lihat dari orang tua kita. Kami tidak membenarkan sepenuhnya, juga tidak menyalahkan sepenuhnya. Apa yang menurut kami baik, kami ikuti. Lalu apa yang menurut kami kurang sesuai, kami belajar bersama untuk tidak mengikutinya.

    Ini bukan soal baik dan buruk. Terkadang soal mana yang paling nyaman untuk kita terapkan. Karena pola yang sama, tapi orangnya beda, kan belum tentu cocok. Ini soal selera saja dan tentang sudut pandang. Yaelah, gayanya.

    Benar kata Ustaz Bachtiar Nasir, orang tua kita, ya kita sendiri, kalau menjelang pernikahan, sering disibukkan dengan menyiapkan gedung, katering, pelaminan, undangan, urusan seragam. Padahal yang lebih dibutuhkan anak-anak (kita) menjelang menikah adalah bekal tentang psikologi pernikahan, fikih pernikahan, hukum positif pernikahan, psikologi perempuan, kesehatan reproduksi, keuangan keluarga, parenting, dan masa-masa rawan dalam pernikahan, terutama lima tahun pertama yang sangat menentukan. Kita lupa menyiapkan seorang kepala rumah tangga dan pasangan yang memiliki bekal itu semua.

    Kami bukan yang kosongan banget, 70-80% kami sudah punya bekal lah paling tidak, tapi kami harus terus belajar untuk melengkapi itu semua. Maka kami mencoba untuk menjadi pasangan yang terus bertumbuh (growth mindset). Tiap hari belajar, tiap hari terus menjalin komunikasi. Bukan untuk menjadi lebih baik dari orang lain, melainkan untuk menjadi diri kami yang lebih baik dari sebelumnya.

    Kepada orang tua kami.

    Di titik ini, kami merasa bisa melaju cukup cepat, tentu saja karena privilese yang diberikan. Jelas kami memulainya bukan dari nol. Kami mungkin memulainya dari 70 atau bahkan 80. Kami akan selalu menjaga legacy ini. Setidak-tidaknya, kami akan mengusahakan hal yang hampir sama jika kata “sama” itu cukup sulit kami upayakan kepada anak kami kelak. Tentu saja kita semua sepakat, bahwa jangan sampai kita meninggalkan generasi yang lemah, lemah dalam hal apapun.

    Kepada istri saya.

    Terima kasih sudah menjadi penumpang kapal yang baik, ikut memperbaiki jika terjadi kerusakan, juga turut menentukan arah perjalanan panjang ini. Rasa-rasanya perjalanan ini masih baru dimulai, masih sangat lama sampainya.

    Alhamdulillah, kehadiran penumpang baru ini menjadi modal untuk kita bisa lebih mudah mengoordinasikan semuanya dengan lebih baik. Semoga pula kita bisa mengantarkan penumpang ini dengan selamat.

    Tiap pasangan kiranya ada ujiannya masing-masing. Kami mungkin terlihat santai dan menikmati hidup ini. Sudah pasti kami diuji, bedanya mungkin kami tidak cerita. Mengeluh, sedih, menangis, ya sudah pasti. Umumnya manusia saja. Cukup kami yang tahu ujiannya di mana.

    Semua akan baik-baik saja. Pokoknya yang saya tahu, sesudah kesulitan pasti ada kemudahan. Meskipun kadang rasanya agak lama, ya. Hehe. Astaghfirullah, ya Allah.

    Untuk anak saya.

    Kamu adalah anugerah terindah yang kami miliki. Dunia ini isinya kamu semua. Kayaknya lagu Alamak (Rizky Febian) ada yang begitu liriknya.

    Tetap tenang dan santai saja, dunia ini gini-gini saja kok. Kadang susah, kadang senang, tapi semoga senangnya banyak, ya. Tidak perlu takut. Nanti ayah kasih tahu tipsnya. Kadang kita tidak perlu pintar-pintar amat dalam hidup, tapi cukup jago berstrategi saja.

    Oh iya, dunia ini sering menuntut orang harus sempurna, bisa segalanya. Kata ayah, ya banyakin saja gapapa-nya. Kalem, santai, gitu saja. Chill aja.

    Di hari-hari atau tahun-tahun berikutnya, saya tidak ingin banyak hal, ya Allah. Cuma ingin kaya dan panjang umur. Kalaupun memang tidak kaya, ya apa pun yang saya butuhkan cukup, ya Allah.

    Dengan harap yang paling dalam sebagai hamba yang benar-benar tidak berdaya, ya Allah, berikanlah hamba kesempatan untuk menjadi suami dan ayah yang bisa menemani anak kecil kami yang lucu itu tumbuh dan berkembang menjadi manusia yang memberikan manfaat banyak.

    Cukup saya saja yang pernah merasakan menjadi anak yatim.