Setelah 5 Tahun Berlayar

Written by

in

Dibilang terasa cepat, ya memang begitulah waktu. Hari ini semuanya terasa begitu cepat. Dulu, waktu kecil, kalau lihat jam, waktu terasa berputar lama. Tetapi hari ini, lihat jam juga terasa cepat, apalagi tidak melihatnya. Perasaan kemarin baru 12 September 2021, ternyata itu sudah 5 tahun yang lalu.

….

Saya pernah mendengar nasihat bijak bahwa lima tahun pertama pernikahan itu katanya fase krusial. Ibarat sebuah kapal, jika kita sebagai penumpang mendapati kapal bocor, jangan buru-buru loncat. Kalau kapal bocor, ya dicari penyebabnya apa, lalu ditambal.

Loncat dari kapal ketika bocor sering kali membuat penyesalan. Nyebur ke laut, dan ya sudah, wassalam. Betapa tingginya angka perceraian di Indonesia dari tahun ke tahun. Boleh jadi karena pendeknya cara berpikir penumpang kapal, lalu ketika kapalnya bocor, dia langsung memutuskan untuk loncat.

Tapi jika bocornya terlalu besar, mungkin loncat adalah langkah penyelamatan yang paling penting. Itu pun harus disertai dengan persiapan yang tentunya harus matang. Tapi saya lagi tidak membahas strategi untuk loncat dari kapal. Hehe.

Semoga kapal yang saya naiki bersama istri saya tercinta dan bertambah muatan satu orang ini tetap kokoh. Aamiin.

Kapal ini tiap hari berlayar, menuju satu tujuan yang sama. Terkadang goyang karena ombak yang besar, dan agaknya sering pusing dibuatnya. Badai bisa datang kapan pun, angin selalu menghantam dari segala penjuru arah. Lebih ngeri lagi kalau-kalau ada batu karang yang siap menghancurkan kapal kapan pun. Apa pun kondisinya, kita harus siap dan berjaga.

Hampir tiap hari, tiap masalah yang ada di kapal ini kami cek, kami diskusikan, dan kami cari solusinya. Sesekali kami sembari ngobrol di sudut kapal itu, tentu saja disertai minuman dan makanan yang cukup enak. Sudut itu menjadi titik koordinasi dan ruang kendali untuk memastikan kapal aman dan tetap sesuai jalur.

Semakin cepat kami bisa menangani kerusakan kecil, atau katakanlah kebocoran kecil, maka akan semakin aman. Kami khawatir kalau tidak segera ditangani, bocornya tambah besar, lalu kapal kami karam. Naudzubillah.

•••

Kami ini pasangan yang lumayan lama, tidak selama orang tua kami, juga tidak newbie seperti orang yang baru menikah. Tentu saja kami banyak kurangnya, tapi ya mungkin ada lebihnya, yang barangkali bisa diambil sebagai hikmah.

Kami ya seperti umumnya pasangan, sering cekcok, ya sering berantem. Saya pikir-pikir, kayak tiba-tiba ada masalah saja gitu. Perasaan menurut saya aman, tapi tidak aman menurut istri saya. Pun sebaliknya. Memang benar kata orang, kuncinya menikah itu ya komunikasi. Apa pun diobrolkan, dibicarakan baik-baik. Kalau kode-kodean, khawatirnya tidak bisa baca kodenya, kan jadi repot.

Style masing-masing orang kan berbeda. Kami dibesarkan dengan gaya parenting yang berbeda. Pun sama dengan ilmu dan pengalaman yang kami miliki dalam menghadapi orang, menghadapi masalah, dan mengelola itu semua. Intinya, dua orang berbeda dan benar-benar beda lalu disatukan dalam ikatan pernikahan, kan ya sulit untuk menyatu. Perlu adaptasi untuk bisa deal dengan segala macam perbedaan itu. Saya pikir semua pasangan juga mengalaminya.

Style kita sebagai pasangan dan cara memperlakukan pasangan kita itu hampir mirip dengan apa yang kita lihat dari orang tua kita. Kami tidak membenarkan sepenuhnya, juga tidak menyalahkan sepenuhnya. Apa yang menurut kami baik, kami ikuti. Lalu apa yang menurut kami kurang sesuai, kami belajar bersama untuk tidak mengikutinya.

Ini bukan soal baik dan buruk. Terkadang soal mana yang paling nyaman untuk kita terapkan. Karena pola yang sama, tapi orangnya beda, kan belum tentu cocok. Ini soal selera saja dan tentang sudut pandang. Yaelah, gayanya.

Benar kata Ustaz Bachtiar Nasir, orang tua kita, ya kita sendiri, kalau menjelang pernikahan, sering disibukkan dengan menyiapkan gedung, katering, pelaminan, undangan, urusan seragam. Padahal yang lebih dibutuhkan anak-anak (kita) menjelang menikah adalah bekal tentang psikologi pernikahan, fikih pernikahan, hukum positif pernikahan, psikologi perempuan, kesehatan reproduksi, keuangan keluarga, parenting, dan masa-masa rawan dalam pernikahan, terutama lima tahun pertama yang sangat menentukan. Kita lupa menyiapkan seorang kepala rumah tangga dan pasangan yang memiliki bekal itu semua.

Kami bukan yang kosongan banget, 70-80% kami sudah punya bekal lah paling tidak, tapi kami harus terus belajar untuk melengkapi itu semua. Maka kami mencoba untuk menjadi pasangan yang terus bertumbuh (growth mindset). Tiap hari belajar, tiap hari terus menjalin komunikasi. Bukan untuk menjadi lebih baik dari orang lain, melainkan untuk menjadi diri kami yang lebih baik dari sebelumnya.

Kepada orang tua kami.

Di titik ini, kami merasa bisa melaju cukup cepat, tentu saja karena privilese yang diberikan. Jelas kami memulainya bukan dari nol. Kami mungkin memulainya dari 70 atau bahkan 80. Kami akan selalu menjaga legacy ini. Setidak-tidaknya, kami akan mengusahakan hal yang hampir sama jika kata “sama” itu cukup sulit kami upayakan kepada anak kami kelak. Tentu saja kita semua sepakat, bahwa jangan sampai kita meninggalkan generasi yang lemah, lemah dalam hal apapun.

Kepada istri saya.

Terima kasih sudah menjadi penumpang kapal yang baik, ikut memperbaiki jika terjadi kerusakan, juga turut menentukan arah perjalanan panjang ini. Rasa-rasanya perjalanan ini masih baru dimulai, masih sangat lama sampainya.

Alhamdulillah, kehadiran penumpang baru ini menjadi modal untuk kita bisa lebih mudah mengoordinasikan semuanya dengan lebih baik. Semoga pula kita bisa mengantarkan penumpang ini dengan selamat.

Tiap pasangan kiranya ada ujiannya masing-masing. Kami mungkin terlihat santai dan menikmati hidup ini. Sudah pasti kami diuji, bedanya mungkin kami tidak cerita. Mengeluh, sedih, menangis, ya sudah pasti. Umumnya manusia saja. Cukup kami yang tahu ujiannya di mana.

Semua akan baik-baik saja. Pokoknya yang saya tahu, sesudah kesulitan pasti ada kemudahan. Meskipun kadang rasanya agak lama, ya. Hehe. Astaghfirullah, ya Allah.

Untuk anak saya.

Kamu adalah anugerah terindah yang kami miliki. Dunia ini isinya kamu semua. Kayaknya lagu Alamak (Rizky Febian) ada yang begitu liriknya.

Tetap tenang dan santai saja, dunia ini gini-gini saja kok. Kadang susah, kadang senang, tapi semoga senangnya banyak, ya. Tidak perlu takut. Nanti ayah kasih tahu tipsnya. Kadang kita tidak perlu pintar-pintar amat dalam hidup, tapi cukup jago berstrategi saja.

Oh iya, dunia ini sering menuntut orang harus sempurna, bisa segalanya. Kata ayah, ya banyakin saja gapapa-nya. Kalem, santai, gitu saja. Chill aja.

Di hari-hari atau tahun-tahun berikutnya, saya tidak ingin banyak hal, ya Allah. Cuma ingin kaya dan panjang umur. Kalaupun memang tidak kaya, ya apa pun yang saya butuhkan cukup, ya Allah.

Dengan harap yang paling dalam sebagai hamba yang benar-benar tidak berdaya, ya Allah, berikanlah hamba kesempatan untuk menjadi suami dan ayah yang bisa menemani anak kecil kami yang lucu itu tumbuh dan berkembang menjadi manusia yang memberikan manfaat banyak.

Cukup saya saja yang pernah merasakan menjadi anak yatim.

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *