
Kalau ditarik ke belakang, hidup ini terlalu unik. Rasa-rasanya hidup saya penuh dengan keberuntungan. Bukan karena saya hebat, jika tabir perihal gaib terpampang nyata di depan mata, barangkali 99% adalah doa dari bapak dan ibu saya.
Kendati dalam hidup yang serba ngepas, lebih sering kekurangan, dan tak jarang sering mengeluhkannya. Satu hal yang pasti, bapak dan ibu selalu memastikan langkah keluarganya on the track. Sesulit apa pun itu, kita harus jadi orang benar, tidak menggangu orang, dan tidak merugikan orang lain. Barangkali itu value dari keluarga ini yang teramat mewah.
Waktu kecil, saya merasa menjadi anak yang tidak cukup diuntungkan. Dari 3 anak terakhir posisi saya ini di tengah-tengah. Di usianya yang tidak muda lagi, Bapak harus terus bekerja untuk mencukupi kebutuhan kami. Ibu juga ikut membantu, meskipun tidak seberapa upahnya, itu adalah langkah yang paling logis yang bisa Ibu lakukan.
Membesarkan anak yang kecil seumuran TK/SD yang usianya tidak berjarak jauh ternyata sangat merepotkan. Jelas butuh biaya yang cukup hanyak, jelas pundak Bapak terasa berat menanggung beban ini.
Memiliki banyak anak itu memang konsekuensinya cukup berat. Saya tidak menyalahkan Bapak dan Ibu, mungkin belum paham soal program KB atau memang punya paham banyak anak banyak rezeki? Soal ini saya pun belum pernah menanyakan secara langsung.
Sialnya saya ini tidak memiliki catatan kapan Bapak lahir, dan umur berapa Bapak menghembuskan nafas terakhirnya. Sialnya lagi saya tidak punya kenangan foto yang bagus bersamanya. Sekitar 2010-an awal eranya HP Nexian dan kawan-kawannya. Sayang sekali tak sempat memotret atau bahkan foto bersamanya.
Saat berangkat sekolah, menjelang guru masuk, di depan pintu kelas 6 itu saya memandang tiap hari Bapak mengayuh sepedanya. Orang Pekalongan bilang sepede jengki namanya, warna biru, ada boncengannya. Di boncengan itu ada jas hujan kuning tebal dijepit. Kadang Bapak juga memakai sepeda Federal jadul andalannya.
Meskipun bekerja sebagai buruh ngecap batik, style Bapak berangkat kerja rapi, iya rapi seperti orang mau pergi ke acara yang cukup formal. Pakai kemeja lengan panjang, topi di kepalanya, dan mengayuh sepedanya dengan badan agak membungkuk sedikit. Pelan dan tidak buru-buru.
Bisa menggambarkan detail seperti itu saja saya berkaca-kaca menuliskannya. Sebab memang tidak banyak kenangan yang terabadikan dengan baik. Hanya ingatan yang menjadi sebaik-baik kenangan yang masih ada dan tersimpan abadi.
Bapak bisa dibilang sering masuk rumah sakit. Setiap masuk rumah sakit, tak jarang terbesit di kepala saya, kalau-kalau Bapak nanti meninggal. Saya takut hari itu tiba, rasa-rasanya tidak siap. Tapi hidup terus berjalan dan kematian adalah kepastian bagi orang yang hidup.
Tiap ke rumah sakit untuk menjenguk saudara atau teman, atau kalau sekarang untuk mengantar anak kontrol ke dokter anak, saya masih ingat momen-momen itu. Dari RSUD Kraton, kadang ke RS Siti Khodijah. Sebuah sudut dan harum khas rumah sakit pun sampai terngiang dibuatnya, saking seringnya.
Saya tidak paham betul kenapa Bapak diuji dengan sakit yang bertubi-tubi. Sebagai anak yang belum banyak tahu tentang dunia ini bekerja, saya benar-benar bingung saat status yatim itu harus melekat pada saya dan adik saya. Terkadang saya merasa dunia saya sudah selesai.
Sejak masuk SMP, Bapak memang sudah angkat tangan untuk bisa membiayai sekolah saya. SPP yang nominalnya kecil buat sebagian orang, kalau tidak salah sekitar 40 ribuan per bulan, uang gedung 450 ribu selama sekolah, Bapak saya tidak kuat. Makanya Mas sama Mbak yang patungan buat bisa bayar SPP dan ngasih saku tiap harinya.
Lha wong Bapak itu dapat pocokan—gajian tiap hari Kamis di Pekalongan, itu cuma dapat 80-100 ribu. Kenapa saya tahu? Karena saya sering mendengarkan percakapan antara Bapak dan Ibu. Agaknya sering ribut karena bayarannya sedikit tapi kebutuhan banyak. Anak masih kecil-kecil, yang agak besar juga belum bisa banyak bantu.
Saya sering melihat Bapak duduk sembari nyender ke tembok rumah, bajunya dilepas, cuma pakai celana pendek sembari menghela nafas. Bapak tidak banyak merespon omongan Ibu. Sepertinya Bapak juga tidak bisa merespon banyak hal, sebab dia pun sudah berjuang sekuat yang dia bisa. Bahkan pulang juga sudah capek.
Meskipun capek banget, Bapak tidak pernah lupa kewajibannya untuk sholat dan puasa saat bulan Ramadhan. Keren banget si, sebab kerjaannya capek, berat dan panas. Memang bare minimum si, tapi melihat laki-laki dewasa menjalankan tugasnya sebagai orang tua dan tetap menjadi hamba yang taat, menurut saya itu keren banget.
Meskipun Ibu saya suka marah-marah karena duitnya sering tidak cukup buat seminggu. Ibu adalah sosok istri yang baik. Ibu selalu menyiapkan makan untuk Bapak, dan Bapak makan tiap selesai sholat Maghrib dari Masjid. Benar-benar disiapkan makanan di meja makan. Seolah semua baik-baik saja.
Saya ingat betul, saat tidak ada yang tersisa, mungkin cuma ada beras saja. Saya disuruh utang ke Bu Nor (Bude, Mbahnya katanya kakak beradik), biasanya minta bakwan, kikil dikecap, atau tempe kecap. Setelah semua dibungkus, saya bilang “Bayare ngko yo jarene Mak E”, maksudnya utang dulu, dicatat dulu.
Bukan ngepas lagi, kekurangan kondisinya. Saya sedih cerita begini, cuma bagi saya ini adalah momen terindah saya. Sekalipun sedih dan penuh dengan air mata untuk mengingatnya kembali. Kalau Ibu bikin telur dadar, itu dibagi-baginya banyak biar semua kebagian.
Hal yang paling ditunggu-tunggu saat ada walimahan adalah saat Bapak pulang membawa nasi berkat. Biasanya ada telur rebusnya 1. Itu telur rebus dibagi 4, biar kami bisa saling berbagi dan tidak ribut. Mas Syahid lebih tua 1 tahun dari saya, dan ada Arman yang masih kecil, lebih muda 4 tahun dari saya. Barangkali nasi berkat walimahan adalah menu makanan paling enak yang bisa kami rasakan.
Lho iya, boro-boro makan enak, buat harian saja ngepas. Saku saya aja 500 perak saat teman-teman saya minimal seribu, dan rata-rata 2 ribu bahkan ada yang 5 ribu. Itupun teman saya ada yang nabung tiap hari 20 ribu, namanya Wahyunikah. Saya masih ingat itu.
Tinggalkan Balasan