
Pernah suatu ketika ada teman minta keringanan SPP, akhirnya Bapak datang ke sekolah SMP. Bapak dengan gaya khasnya memakai celana panjang dan kemeja panjang lengkap dengan kopiah hitam. Bapak saya bukan orang terdidik, beliau datang dan saya dikasih tahu. Saya antar Bapak ke ruang BK kemudian lanjut ke bagian Tata Usaha. Akhirnya SPP bisa turun.
Alurnya memang tidak jelas. Bapak saya harus bolak-balik ke sana kemari. Saya sedih melihatnya. Gini amat jadi orang tidak punya. Prinsipnya, berbuat baik, memberikan pelayanan yang baik itu jangan melihat kelas. Kebaikan itu untuk semuanya. Tapi ya tidak apa-apa, santai saja. Dunia ini berputar, kita lahir tidak bisa memilih orang tua, mati pun kita tidak bawa apa-apa.
Saya tidak minta diperlakukan istimewa, cuma dilayani sebagai manusia biasa saja. Kalau bisa bilang bisa, kalau tidak bisa yaa bilang tidak bisa. Sesimpel itu saja.
Kalau tidak salah waktu itu saya kelas 8 SMP. Bapak masih kuat naik sepeda, kadang main ke saudaranya di Kota Pekalongan. Bapak ini sukanya nyedulur, ke saudaranya. Tapi saya heran kenapa saudaranya tidak jarang sekali main ke rumah? Apa karena kami bukan orang have ya. Saya benar-benar tidak paham betul saudara saya dari jalur Bapak. Bahkan sampai hari ini hanya segelintir saja yang saya tahu. Saking jarangnya mereka menyapa Bapak di rumah kami.
Padahal di antara semua anak Mbah, cuma tersisa Bapak doang. Saat sakit ya saya tidak melihat ada saudaranya, pas meninggal juga tidak banyak saudara Bapak hadir. Bisa gitu ya. Tapi kalau Bapak sehat itu sudah bisa dipastikan main ke rumah saudara-saudaranya itu.
Sialan, ternyata soal warisan. Itu sebabnya pas Bapak meninggal sepi. Aset yang mestinya menjadi hak Bapak langsung diproses setelah Bapak meninggal. Seolah semua disengaja, disetting sedemikian rupa. Lah dalah. Begini amat cara mainnya. Kalau Bapak meninggal kan dapatnya sedikit, aturan mainnya memang gitu. Kalau masih hidup ya dapatnya banyak.
Bapak katanya pernah cerita, kalau nanti warisan itu terjual, itu uangnya lumayan besar. Nanti bisa buat menyekolahkan saya.
Setidaknya ada yang jadi orang yang berhasil satu. Ternyata Bapak yang selama ini terlihat hanya bekerja dan bekerja untuk mencukupi keluarga, sudah punya rencana untuk pendidikan anaknya.
Selama menjadi anak, saya tidak pernah diapresiasi. Jadi meskipun saya ini langganan ranking 1 dari SD sampai lulus SMA, Bapak ya biasa saja. Tapi Bapak hanya menyaksikan saya sampai SMP kelas 8. Baru masuk kelas 9, Bapak meninggalkan saya untuk selamanya.
Apa bapak-bapak di luar sana juga sama? Cenderung dingin, pingin ngucapin selamat tapi dia sendiri tidak pernah merasakan hal yang sama. Mentok ya di bangku SD saja. Bapak tetap tahu anaknya ada yang potensial jadi orang. SMP dan SMA apalagi kuliah waktu itu kan bayar semua. Jadi opsi paling memungkinkan yang Bapak harapkan ya tadi, kalau warisan terjual bisa buat sekolah anaknya.
Waktu memberikan nama ke saya, katanya Bapak pernah melihat pedagang besar namanya H. Abdul Rasyid. Dikasihlah saya nama itu, lengkapnya Abdul Rasyid Baharun Syah. Makanya di rumah saya dipanggil Arun (sudah kaya orang India). Tapi entah kenapa di surat kelahiran cuma Abdul Rasyid, entah lupa atau gimana ya.
Sayang sekali, plan Bapak tidak berjalan sesuai dengan harapannya itu. Bapak harus meninggalkan dunia ini dengan meninggalkan 3 anak yang masih memerlukan bimbingan. Tidak apa-apa, mungkin soal warisan itu bukan rezekinya. Barangkali rezekinya dengan skema lainnya.
Tinggalkan Balasan